You are currently viewing Pendaki AS Alex Honnold Panjat Gedung Tertinggi di Taiwan Tanpa Tali Pengaman, Tuntas dalam 90 Menit

Pendaki AS Alex Honnold Panjat Gedung Tertinggi di Taiwan Tanpa Tali Pengaman, Tuntas dalam 90 Menit

Pendaki tebing asal Amerika Serikat, Alex Honnold adalah seorang pendaki legendaris di dunia olahraga ekstrem yang kembali mencetak sejarah dengan menaklukkan gedung tertinggi di Taiwan, Taipei 101, tanpa menggunakan tali pengaman maupun peralatan pelindung apa pun. Aksi berisiko tinggi itu dilakukan pada Minggu, 25 Januari 2026, dan berhasil diselesaikan hanya dalam waktu sekitar 90 menit.

Alex Honnold Panjat Gedung Setinggi 508 meter

Gedung setinggi 508 meter tersebut bukan sekadar bangunan ikonik, melainkan simbol modernitas Taiwan dan salah satu pencakar langit paling dikenal di dunia. Namun, bagi Honnold, Taipei 101 bukan hanya struktur beton dan baja, melainkan tantangan vertikal yang menuntut konsentrasi, kekuatan fisik, dan ketenangan mental pada tingkat ekstrem.

Mengenakan kemeja lengan pendek berwarna merah, Honnold terlihat melambaikan kedua tangannya di atas kepala begitu berhasil mencapai puncak gedung. Dengan wajah santai namun jelas menyiratkan kelegaan, ia menyampaikan kesan pertamanya setelah pendakian. “Pemandangannya luar biasa, sungguh menakjubkan, hari yang indah,” ujarnya, seperti dikutip dari New York Post, Senin (26/1/2026).

Ia mengakui bahwa kondisi di puncak gedung tidak sepenuhnya bersahabat. “Anginnya sangat kencang, jadi saya berpikir, jangan sampai jatuh dari puncak. Saya berusaha menjaga keseimbangan dengan baik. Tapi itu posisi yang luar biasa, cara yang indah untuk melihat Taipei,” lanjutnya.

Pendakian ini semakin mengukuhkan reputasi Honnold sebagai spesialis “free solo climbing”, istilah untuk pendakian tanpa tali dan tanpa perlengkapan pengaman. Nama Honnold sebelumnya sudah mendunia berkat aksinya menaklukkan El Capitan di Taman Nasional Yosemite, sebuah tebing granit raksasa yang menjadi mimpi buruk bagi banyak pendaki profesional.

Aksi Alex Honnold Mengandalakan Kekuatan Tangan dan Kaki

Dalam aksinya di Taipei 101, Honnold memanjat salah satu sudut gedung dengan memanfaatkan tonjolan-tonjolan kecil berbentuk huruf L sebagai pijakan. Secara berkala, ia harus bermanuver melewati struktur hias besar yang menjorok keluar dari bangunan, menarik tubuhnya ke atas hanya dengan kekuatan tangan dan kaki.

Gedung Taipei 101 memiliki total 101 lantai dengan desain arsitektur yang khas. Bagian tersulit dari pendakian ini berada di sekitar lantai 64, tepat di bagian tengah bangunan yang dikenal dengan bentuk “kotak bambu”. Desain ini memberikan tampilan unik pada gedung, namun bagi pendaki, justru menjadi tantangan teknis yang kompleks.

Struktur bangunan terbagi menjadi delapan segmen utama. Setiap segmen terdiri atas delapan lantai dengan jalur pendakian curam dan menggantung, yang kemudian diikuti oleh balkon. Balkon-balkon inilah yang dimanfaatkan Honnold untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan memulihkan fokus sebelum melanjutkan pendakian ke segmen berikutnya.

Menariknya, aksi solo bebas Honnold ini tidak hanya disaksikan oleh warga Taipei dari bawah dan dari dalam gedung, tetapi juga disiarkan secara langsung melalui Netflix dengan penundaan sekitar 10 detik. Siaran langsung tersebut memungkinkan jutaan penonton di seluruh dunia menyaksikan secara real time setiap gerakan berisiko yang dilakukan Honnold.

Pendakian ini sejatinya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Januari 2026. Namun, hujan yang mengguyur Taipei memaksa panitia dan tim Honnold menunda aksi tersebut selama 24 jam demi keselamatan. Meski demikian, pada hari pelaksanaan, antusiasme publik tidak surut. Warga berkerumun di sekitar gedung, sementara banyak lainnya menyaksikan dari dalam bangunan.

Sorak sorai penonton menjadi pengalaman yang tidak biasa bagi Honnold, yang selama ini lebih sering mendaki di lokasi terpencil jauh dari keramaian. “Saat saya meninggalkan tanah, Anda seperti, oh, ini agak menegangkan, ada begitu banyak orang yang menonton,” katanya. “Tapi jujur saja, mereka semua mendoakan yang terbaik untukku. Itu membuat seluruh pengalaman terasa lebih meriah.”

Alex Hadir Membawa Kekaguman dan Inspirasi di Dunia Olahraga Ekstrem

Aksi ini sekaligus memunculkan perdebatan etis. Di satu sisi, pendakian tersebut menghadirkan kekaguman dan inspirasi. Di sisi lain, siaran langsung dari aksi berisiko tinggi ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi glorifikasi bahaya ekstrem, terutama bagi generasi muda.

Honnold bukanlah orang pertama yang mendaki Taipei 101. Pada Hari Natal 2004, pendaki tebing asal Prancis Alain Robert pernah memanjat gedung tersebut sebagai bagian dari perayaan pembukaan besar gedung tertinggi di dunia saat itu. Namun, Honnold menjadi pendaki pertama yang melakukannya sepenuhnya tanpa tali.

Nama Alex Honnold sendiri sudah lama identik dengan prestasi ekstrem. Ia berasal dari California Utara dan mencapai puncak ketenaran setelah menaklukkan El Capitan setinggi sekitar 914 meter tanpa alat bantu apa pun pada Juni 2017. Aksi tersebut hanya mengandalkan kekuatan fisik, ketenangan mental, serta sekantong kecil bubuk kapur untuk menjaga genggaman tangan.

Pendakian El Capitan itu memakan waktu sekitar 3 jam 56 menit dan mengantarkan Honnold mencatatkan namanya dalam Guinness World Records sebagai pendaki pertama yang berhasil melakukan free solo di tebing tersebut.

Prestasi monumental itu kemudian diabadikan dalam film dokumenter pemenang penghargaan berjudul Free Solo, yang mendapat pujian luas dari kritikus dan penonton. Film tersebut menampilkan sisi lain dari Honnold, termasuk persiapan mental, latihan bertahun-tahun, dan risiko nyata yang ia hadapi.

Melansir Tuna55, Honnold dikenal menjalani latihan fisik yang sangat ketat demi menjaga kekuatan otot dan mencegah cedera. Bahkan, pada November sebelum kesuksesan El Capitan, ia sempat membatalkan upaya free solo karena kondisi fisiknya tidak optimal.

Aksi terbaru di Taipei 101 kembali menegaskan posisi Alex Honnold sebagai salah satu pendaki paling berani dan berpengaruh dalam sejarah olahraga ekstrem. Bagi sebagian orang, ia adalah simbol keberanian dan disiplin luar biasa. Bagi yang lain, ia adalah pengingat akan betapa tipisnya batas antara prestasi dan risiko fatal. Namun satu hal pasti, setiap langkah Honnold di ketinggian selalu mengubah cara dunia memandang batas kemampuan manusia.

Leave a Reply