You are currently viewing Kasus Siswa SD di NTT, Puan Desak Pembenahan Pendidikan dan Bantuan Sosial

Kasus Siswa SD di NTT, Puan Desak Pembenahan Pendidikan dan Bantuan Sosial

Kasus Siswa SD di NTT, Puan Desak Pembenahan Pendidikan dan Bantuan Sosial – Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan duka

mendalam atas meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia menilai peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang harus menjadi bahan introspeksi serius bagi negara.

Menurut Puan, ketidakmampuan seorang anak memenuhi kebutuhan dasar sekolah menunjukkan masih adanya celah dalam kebijakan pendidikan

nasional. Program pendidikan gratis, kata dia, seharusnya tidak hanya menghapus biaya sekolah,

tetapi juga memastikan seluruh kebutuhan penunjang pendidikan dapat diakses oleh anak-anak dari keluarga prasejahtera.

DPR Dorong Perbaikan Menyeluruh Sistem Pendidikan

Ia menegaskan bahwa bantuan pendidikan dan beasiswa harus dirancang untuk menjawab persoalan nyata di lapangan,

bukan sekadar bersifat administratif.

“Program bantuan pendidikan harus benar-benar menjangkau anak-anak yang membutuhkan dan mampu menyelesaikan masalah

yang mereka hadapi,” ujar Puan.

Selain itu, Puan menilai sekolah memiliki peran penting dalam memahami kondisi sosial peserta didik.

Dengan pemetaan latar belakang siswa yang baik, sekolah dapat memastikan tidak ada anak yang tertinggal karena keterbatasan ekonomi.

Ia juga menekankan bahwa kasus di NTT tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan kemiskinan semata,

melainkan juga berkaitan dengan kesehatan mental anak dan lingkungan belajar yang belum sepenuhnya aman dan inklusif.

Kemiskinan dan Administrasi Jadi Akar Persoalan Kasus Siswa SD

Puan turut meminta pemerintah agar lebih aktif menjangkau masyarakat di daerah, khususnya wilayah terpencil,

melalui program bantuan sosial yang tepat sasaran. Menurutnya, kepedulian sosial di lingkungan sekolah

harus menjadi bagian penting dalam kebijakan pendidikan nasional.

“Kita harus melihat peristiwa di Ngada ini secara menyeluruh. Kemiskinan menjadi akar masalah,

dan negara wajib hadir untuk memutus rantai tersebut,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebijakan pemerintah perlu difokuskan pada penyelesaian masalah mendasar agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Sebelumnya, publik dikejutkan oleh kabar meninggalnya YBR (10), seorang siswa SD di Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada,

yang diduga mengakhiri hidupnya. Anak tersebut diduga mengalami tekanan ekonomi berat sehingga

tidak mampu membeli perlengkapan sekolah seperti buku dan alat tulis.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Pemerintah Kabupaten Ngada melalui Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil)

melakukan penelusuran terhadap kondisi keluarga korban. Hasilnya, keluarga YBR diketahui belum pernah menerima bantuan sosial apa pun.

Kepala Dinas Dukcapil Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi akibat persoalan administrasi

kependudukan yang belum terselesaikan selama bertahun-tahun. Secara administratif, ibu korban masih tercatat

sebagai penduduk Kabupaten Nagekeo meskipun telah tinggal di Desa Naruwolo selama lebih dari satu dekade.

Kondisi tersebut membuat keluarga korban tidak terdata dalam sistem penerima bantuan sosial di wilayah Ngada.

Pasca kejadian, Dukcapil langsung mengambil langkah cepat dengan memproses perpindahan domisili agar keluarga korban

dapat masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Kami langsung melakukan pendataan dan mengurus perpindahan administrasi kependudukan agar

keluarga bisa terdata secara resmi,” ujar Gerardus.

Sebagai pengingat, bunuh diri bukanlah jalan keluar dari masalah kehidupan. Apabila Anda atau orang

terdekat mengalami tekanan psikologis, depresi, atau keinginan untuk menyakiti diri sendiri,

sangat dianjurkan untuk segera mencari bantuan Tuna55 profesional di fasilitas kesehatan terdekat atau melalui layanan kesehatan jiwa yang tersedia.

Leave a Reply