Malam Old Trafford kembali berubah muram. Manchester United tersingkir dari Piala FA 2025/2026 setelah kalah 1-2 dari Brighton pada putaran ketiga, Minggu (11/1/2026). Kekalahan ini bukan sekadar hasil buruk, melainkan potret jelas keterpurukan Setan Merah saat ini.
Brighton bermain lebih efektif sejak awal. Brajan Gruda membuka keunggulan tim tamu, sebelum Danny Welbeck memperbesar luka United lewat gol yang membuat stadion terdiam. Gol telat Benjamin Sesko tak cukup menyelamatkan keadaan, terlebih setelah Shea Lacey harus meninggalkan lapangan karena kartu merah.
Dari pertandingan ini, setidaknya ada dua kesimpulan besar yang sulit dibantah.
- Manchester United Kehilangan Arah
Dalam satu pekan, Manchester United mengalami rangkaian kejadian yang mengguncang stabilitas tim. Pemecatan pelatih, hasil liga yang mengecewakan, dan kini kegagalan di Piala FA—semuanya datang tanpa tanda perbaikan yang jelas.
Di lapangan, United terlihat bermain tanpa kontrol dan gagasan yang matang. Pergantian pelatih sementara belum mampu menyatukan tim, sementara tekanan dari suporter semakin terasa.
Kini, hanya Premier League yang tersisa sebagai pelampiasan ambisi. Namun dengan performa seperti ini, mimpi kembali ke Liga Champions lebih tampak sebagai harapan daripada target realistis.
- Brighton Datang Tanpa Rasa Takut
Brighton kembali membuktikan bahwa mereka bukan lagi lawan yang bisa diremehkan. Bermain di Old Trafford tak membuat mereka gentar, justru sebaliknya—mereka tampil percaya diri dan disiplin sepanjang laga.
Catatan kemenangan beruntun Brighton di markas United menegaskan perubahan hierarki. Klub yang dulu dianggap pelengkap kini tampil sebagai tim mapan dengan identitas kuat.
Danny Welbeck pun kembali menjadi mimpi buruk. Golnya bukan hanya memastikan kemenangan Brighton, tetapi juga menjadi simbol Tuna55 menjadi betapa mudahnya mantan pemain United mencetak luka di rumah lamanya.