Di Balik Status UNESCO, Warga Desa Slovakia Ingin Hidup Normal – Ketika Indonesia tengah gencar mendaftarkan berbagai situs agar
mendapat pengakuan UNESCO, situasi berbeda justru terjadi di sebuah desa kecil di pedalaman Slovakia.
Warga Vlkolínec kini menyuarakan keinginan agar desa mereka dicabut dari Daftar Warisan Dunia UNESCO. Lalu, apa yang melatarbelakanginya?
“Kehidupan kami nantinya justru akan jadi lebih baik jika pada UNESCO menghapus pada desa ini dari daftar,
” ucap dari Anton Sabucha kepada warta harian Slovakia Denník N, seperti yang juga telah dikutip oleh Euronews, Jumat (6/2/2026).
Di desa itu, pengunjung kerap menemukan papan bertuliskan “properti pribadi” serta larangan mengambil foto di sejumlah titik.
Vlkolínec terletak sekitar tiga jam perjalanan dari Bratislava dan resmi masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1993.
Status UNESCO Wisata Ramai, Warga Merasa Terusik
Desa ini dikenal sebagai contoh langka permukiman abad pertengahan Eropa yang masih terjaga keasliannya.
Rumah-rumah kayu tradisional dan menara lonceng yang dibangun pada 1770 menjadikan Vlkolínec magnet wisata,
dengan kunjungan mencapai sekitar 100 ribu orang setiap tahun.
Namun, tingginya arus wisatawan justru dinilai mengganggu ketenangan hidup sebagian penduduk.
Meski demikian, Katarina Šarafínová dari Dewan Pariwisata Regional Visit Liptov menegaskan bahwa mayoritas warga
masih mendukung status Warisan Dunia tersebut.
Menurutnya, pencantuman Vlkolínec dalam daftar UNESCO berperan besar dalam pelestarian arsitektur kayu khas desa itu
serta restorasi bangunan bersejarah milik pemerintah kota, warga, maupun gereja. Berbagai hibah juga memungkinkan pembangunan pameran baru,
Rumah UNESCO, serta pusat informasi wisata yang memperkenalkan kehidupan tradisional masyarakat pegunungan.
Šarafínová menambahkan, pemerintah kota telah memberikan bantuan finansial untuk perawatan properti warga
serta insentif pajak sebagai kompensasi atas dampak pariwisata. Selain itu, penunjukan kembali pengelola situs juga direncanakan
untuk membantu pengelolaan desa.
Vlkolínec sendiri merupakan bagian dari Kota Ružomberok, yang telah menyusun rencana pengelolaan periode 2022–2031
guna memperbaiki infrastruktur, memulihkan monumen budaya nasional, dan menjaga arsitektur rakyat tradisional.
Sikap UNESCO dan Pembelajaran dari Indonesia
Sejumlah wisatawan tetap memandang keberadaan status UNESCO sebagai hal positif.
Hels Dainty, seorang digital nomad yang mengunjungi Vlkolínec pada November 2025
setelah melihatnya di panduan Lonely Planet, menilai pelestarian lebih baik daripada membiarkan desa menjadi kota mati.
“Saya senang desa ini masih dihuni. Sebaiknya pengunjung datang di luar musim ramai,
menghormati warga, dan mendukung ekonomi lokal,” ujarnya.
Sejak program Warisan Dunia diluncurkan pada 1978, UNESCO tercatat hanya menghapus tiga situs dari daftarnya,
yakni Suaka Oryx Arab di Oman, Lembah Elbe Dresden di Jerman, dan Kota Perdagangan Maritim Liverpool di Inggris.
Ketiganya dicabut akibat pembangunan baru, bukan karena permintaan warga.
UNESCO menegaskan bahwa peningkatan jumlah pengunjung di Vlkolínec lebih mencerminkan tren pariwisata global,
bukan semata dampak pencantuman yang terjadi lebih dari 30 tahun lalu.
Organisasi tersebut juga memiliki berbagai instrumen untuk mengelola tekanan pariwisata
serta mendorong dialog antara otoritas dan masyarakat lokal agar keseimbangan antara pelestarian dan kesejahteraan warga tetap terjaga.
Di Indonesia sendiri, polemik serupa muncul terkait rencana pembongkaran jembatan kereta api di Lembah Anai,
jalur menuju Warisan Tambang Batubara Ombilin. Rencana ini dipicu kerusakan akibat banjir dan longsor.
Meski kondisi jembatan dinilai cukup parah, Fadli Zon menyatakan pembongkaran bukan pilihan utama.
Pemerintah lebih mendorong perbaikan dan penguatan struktur,
mengingat situs tersebut telah diakui sebagai Warisan Tuna55 Dunia UNESCO sejak 2019.