You are currently viewing Kebijakan Tarif Baru Trump: Negara yang Berbisnis dengan Iran Terancam Sanksi AS

Kebijakan Tarif Baru Trump: Negara yang Berbisnis dengan Iran Terancam Sanksi AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru yang menargetkan negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran. Mulai Senin, 12 Januari, Washington akan mengenakan tarif sebesar 25 persen terhadap seluruh transaksi perdagangan dengan Amerika Serikat bagi negara yang tetap melakukan aktivitas bisnis dengan Teheran.

Pengumuman Trump

Pengumuman tersebut disampaikan Trump melalui platform media sosial Truth Social. Ia menegaskan kebijakan ini bersifat final dan akan diberlakukan tanpa pengecualian. Menurut Trump, langkah tersebut merupakan respons tegas atas tindakan represif pemerintah Iran dalam menangani gelombang demonstrasi nasional yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Washington menilai tindakan aparat Iran terhadap demonstran telah melanggar prinsip hak asasi manusia secara serius. Laporan Channel News Asia pada Selasa, 13 Januari 2026, mengutip organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia, mencatat sedikitnya 648 orang tewas dalam aksi protes, termasuk sembilan anak-anak.

Namun, IHR memperingatkan angka tersebut kemungkinan jauh dari jumlah sebenarnya. Organisasi itu memperkirakan korban jiwa bisa melampaui 6.000 orang, mengingat adanya pemutusan akses internet secara nasional yang menyulitkan verifikasi independen. Selain korban tewas, sekitar 10.000 orang juga dilaporkan ditangkap oleh aparat keamanan Iran.

Menanggapi situasi tersebut, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa Amerika Serikat masih mengutamakan jalur diplomasi. Meski demikian, ia tidak menutup kemungkinan opsi militer, termasuk serangan udara, sebagai langkah terakhir jika kekerasan terhadap demonstran terus berlanjut.

Respon Pihak Iran

Dari pihak Iran, Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei justru mengklaim bahwa rezimnya berhasil memenangkan situasi. Ia menunjuk aksi demonstrasi pro-pemerintah yang dihadiri ribuan orang sebagai bukti kegagalan apa yang disebutnya sebagai campur tangan musuh asing. Khamenei menuding gelombang protes nasional didalangi pihak luar melalui agen-agen di dalam negeri.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyebut negaranya tengah menghadapi “perang di empat medan”: ekonomi, psikologis, militer melawan Amerika Serikat dan Israel, serta konflik melawan kelompok yang ia sebut teroris domestik. Ia bersumpah akan memberikan “pelajaran yang tak terlupakan” kepada Trump jika Iran diserang.

Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul indikasi adanya komunikasi diplomatik tertutup. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengonfirmasi keberadaan jalur komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Tuna55.

Sementara itu, tekanan internasional terhadap Iran terus meningkat. Uni Eropa tengah mempertimbangkan sanksi tambahan dan telah melarang diplomat Iran memasuki Gedung Parlemen Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka mengecam kekerasan negara terhadap warga sipil Iran.

Di sisi lain, Rusia mengambil sikap berlawanan dengan membela Teheran dan menentang segala bentuk intervensi asing dalam urusan domestik Iran. Perbedaan sikap ini semakin menegaskan ketegangan geopolitik global yang kian tajam akibat krisis Iran.

Leave a Reply