Perang Korea, Gencatan Senjata 30 Januari 1952 Tak Berhasil – Upaya untuk menghentikan Perang Korea melalui
perundingan gencatan senjata pada Januari 1952 masih menemui jalan buntu. Meski telah berlangsung lebih dari 50 kali pertemuan
dalam beberapa pekan di Panmunjom, kedua pihak yang berkonflik belum mampu menjembatani
perbedaan mendasar yang menghambat tercapainya kesepakatan.
Perbedaan Prinsipil Hambat Kesepakatan Gencatan Senjata
Sejumlah isu sensitif, mulai dari pengungsi hingga mekanisme pengawasan, menjadi penghalang utama dalam proses negosiasi.
Salah satu persoalan krusial yang belum terpecahkan adalah masa depan sekitar 6.000 pengungsi Korea. Selain itu, perdebatan tajam
juga muncul terkait pembentukan serta susunan tim pengamat dari negara-negara netral yang akan bertugas
mengawasi pelaksanaan gencatan senjata, sebagaimana dikutip dari BBC, Jumat (30/1/2026).
Perundingan bahkan sempat terhenti selama beberapa pekan setelah Korea Utara menuntut izin untuk membangun
kembali lapangan udara yang rusak akibat perang. Untuk mengatasi kebuntuan, pihak Sekutu mengusulkan agar isu tersebut
ditangguhkan sementara demi membuka peluang kemajuan di agenda lain. Namun, langkah itu belum menghasilkan perkembangan signifikan.
Fokus perselisihan kemudian bergeser pada jumlah personel tim inspeksi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa awalnya mengajukan 70.000 personel, lalu menurunkannya menjadi 40.000. Sementara itu,
pihak Komunis menaikkan usulan mereka dari 5.000 menjadi 25.000 personel, meski perbedaan masih belum terselesaikan.
Konflik Militer Terus Berlanjut di Tengah Mandeknya Diplomasi
Ketegangan di medan perang tetap tinggi meski perundingan telah menetapkan garis demarkasi sementara.
Komposisi negara-negara yang akan tergabung dalam tim pengamat netral juga memicu perbedaan pendapat.
Sekutu mengusulkan Swedia, Swiss, dan Norwegia sebagai anggota. Sebaliknya, pihak Komunis belum menyampaikan daftar resmi,
namun memberi sinyal kemungkinan mengusulkan Uni Soviet—opsi yang ditolak Sekutu karena Moskow
diketahui memberi dukungan politik kepada Korea Utara dan China, meski tidak terlibat langsung dalam pertempuran.
Pada 27 November 1951, kedua pihak sebenarnya sempat menyepakati penggunaan garis paralel ke-38
sebagai garis demarkasi sementara. Namun, kesepakatan tersebut tidak menghentikan pertempuran di lapangan.
Data terbaru menunjukkan intensitas konflik masih tinggi. Sepanjang Januari, penerbang Sekutu dilaporkan berhasil menembak
jatuh 31 pesawat jet musuh. Di sisi lain, pasukan PBB kehilangan 52 pesawat dalam periode yang sama, sebagian
besar akibat serangan dari darat. Angka tersebut tercatat sebagai kerugian udara bulanan terbesar Tuna55 sejak perang dimulai pada Juni 1950.
Kebuntuan dalam perundingan ini menegaskan bahwa jalan menuju gencatan senjata masih panjang,
sementara korban jiwa dan kerugian material terus bertambah seiring berlanjutnya konflik bersenjata.